Senin, 08 Februari 2010

KEARIFAN LOKAL

Putu Wijaya

KEARIFAN LOKAL

(Kuliah umum di hari Penghargaan Akademi Jakarta, 21-12-2009)


(Saudara-saudara, hadirin sekalian yang saya mulyakan. Saya berdiri di depan Anda semuanya, tidak untuk memberi kuliah umum. Saya hanya bakul jamu, seorang pemulung yang mengorek-orek sampah, memanipulasi yang terbuang agar menjadi penting. Usaha saya coba memutar balik segalanya dengan berbagai akrobatik, sikap dan propaganda yang berlebihan. Karena saya percaya, dengan provokasi yang terus-menerus, keras, licik, tapi tidak kelihatan, alhasil jalan subversive, suara saya akan Anda dengarkan, di tengah kebisingan iklim yang sedang tergila-gila memprimadonakan politik dan ekonomi ini.

Saya seorang teroris mental. Harap herhati-hati.

Saya punya sasaran (baca: judul atau target), tapi saya tidak akan menyebutkannya. Lebih baik Anda sendiri yang nanti memberikannya nama yang lebih tepat. Karena saya rasa, sebagaimana orang menonton pertunjukan teater, setiap posisi Anda, latar belakang, bagasi pikiran dan keyakinan, akan menangkap nuansa yang berbeda-beda. Kalau pun ada yang sama, itu bonus. Namun saya tetap percaya dalam kesamaan itu tetap mungkin gradasinya berbeda. Maka kesimpulan masing-masing setelah pertemuan ini, akhirnya bisa berbelok bertentangan bahkan bermusuhan. Itu bagian dari, dalam kutip: kekurangan teater yang selalu saya syukuiri.

Karena itu saya akan mulai dengan teater. Kemudian saya akan menampilkan berbagai contoh dari masa lalu dan latar belakang saya. Dengan target, semoga itu tidak diartikan sebagai kampanye parawisata untuk memulihkan pesona Bali yang makin lama makin terdikte oleh selera turis. Saya justru ingin menggapai semua tradisi yang berserak di seluruh Nusantara tercinta ini, yang saya anggap sebagai kekayaan yang lebih membanggakan dari sumber-daya-alam kita yang selalu dipuji-puji tetapi kini sudah semakin tergerus habis.

Saya mulai dari ancaman bahwa kearifan/kebijakan lokal dalam tradisi sudah diabaikan. Yang tinggal adalah selongsongnya yang berupa tabu, larangan dan perintah-perintah yang membuat generasi baru kikuk dan tertekan. Mata harapan kita sudah dibelokkan dari esensi hingga terpateri pada yang kasat mata. Dulu kita percaya sumber daya alam, minyak dan gas bumi, akan menjamin masa depan, sekarang TKW dikibarkan dan dipaksa menjadi pahlawan pengumpul devisa, sementara Nirmala Bonar, Ceriati, Sitti Hajar dibiarkan berdarah.

Saya sengaja menampilkannya dengan dramatik. Seorang teman pernah mengatakan bahwa, sebuah statemen harus diungkapkan dengan tajam dan provokatif supaya bisa menggigit. Teman yang satunya meyakinkan saya bahwa kebenaran, baik baru bernama: opini atau tuduhan, walaupun belum bulat-lengkap-tuntas, harus ditembakkan saja, karena kalau tidak begitu, upaya kritis itu akan tersedot atau terbunuh oleh sensor diri sendiri sebelum sempat berdialog dengan masyarakat)



Ketika kata drama diberikan padan kata dalam bahasa Indonesia dengan “sandiwara”, banyak orang menduga bahwa itulah cara terbaik dalam mengadopsi drama agar dapat diterima oleh masyarakat luas. Tetapi dengan kata sandiwara (sandi = rahasia, wara = kabar, kabar rahasia) ada 2 hal besar telah tertanam yang membawa dampak panjang dan dalam. Sebuah kesalahan besar sudah terjadi yang nyaris merupakan sebuah kejahatan yang tidak disadari.

Pertama, drama disahkan sebagai barang impor yang berasal dari Barat. Maka sebagai konsekuensinya, Barat kemudian menjadi nara sumber, kiblat yang mendikte perkembangan sandiwara. Dengan tunduk pada estetika Barat, maka harmoni di dalam teater tradisi yang sudah mengakar dan hidup, terasa salah, kuno, kampungan atau kedaluwarsa. Ini semacam kolonialisme baru, yang menyebabkan, arti “kemerdekaan” menjadi mentah.



(Drama dipetakan oleh dramaturgi Barat sebagai kelahiran Yunani Kuno, ketika dilaksanakan upacara pemujaan pada Dyonesos, dewa anggur dan kesenangan, Jadi pada awalnya drama adalah upacara, “monolog” dari pendeta yang menjadi penyambung lidah masyarakat. Kemudian lahir “dialog”. Disusul dengan pengkotakan yang jelas antara tragedi (situasi perih yang sering berakhir dengan kematian ) dan komedi yang penuh suka-ria dan canda. Keduanya bagai kutub utara dan kutub selatan yang haram bertemu.

Drama yang kerap disebut teatar, dalam perkembangan selanjutnya di blantika Barat. kehilangan unsur upacara lalu menjadi hanya pertunjukan dan barang komoditi. Dia dikemas, didandani, dibuatkan sangkar (baca gedung pertunjukan) dengan asesoris prosenium, layar, tata lampu, tata artistik dan ruang khusus penonton yang menjadi saksi. Drama menjadi tiruan/bayangan dari kehidupan nyata. Disepakatilah “empati” sebagai tolok ukur yang termulya.

Drama yang tidak memberikan empati, dianggap kelas dua.

Dramaturgi teater Timur tak pernah benar-benar dilacak, seakan tak punya sejarah. Wayang dikaitkan dengan pelajaran etnologi, sebagai upacara pemanggilan nenek-moyang. Kathakali (India) , opera China (Cina) , Noh (Jepang), sebagai gelontongan esensi raksasa yang menjadi ibu, bumi, yang memantulkan filosofi kehadiran “upacara” spiritual itu dalam kehidupan, hanya menjadi penari latar dalam sejarah dramaturgi. Teater tradisi lebih dekat pada industri pariwisata dan antropologi budaya.

Merembuk drama, jadi sama sekali tak ada kaitannya dengan teater tradisi. Kedua hal itu walau jalan seiring dalam jalur yang menuju ke sasaran yang sesungguhnya sama: yakni pengalaman batin - tetapi lajur yang berseberangan membuatnya menjadi tak ada urusan. sama sekali.

Teater modern dan teater tradisi jadi bertentangan. Drama dan teater tradisi dijadikan bermusuhan.

Komedi dan tragedi dalam teater Timur tak pernah berpisah, tapi datang serentak dalam satu paket. Sebagaiman yang dicatat oleh kearifan lokal Bali: “ana tan ana”. Ada itu tak ada dan sebaliknya tak ada itu ada. Kosong itu berisi, berisi itu kosong. Demikianlah komedi dan tragedi tidak membelah tapi saling isi mengisi di dalam kehidupan yang silih-berganti. Orang Bali menyebutnya: “desa-kala-patra”.

Yang dimaksudkan dengan “upacara” adalah peristiwa yang dibangun dengan khidmat bersama-sama.. Tak ada penonton, tak ada pelaku. Semuanya peserta. Kendati teater tradisi dapat menjadi tontonan yang menghibur (dan karenanya kemudian bisa dijadikan komoditi) tetapi unsur peristiwa bersama untuk menciptakan pengalaman batin tetap menjadi benang merah yang makin lama makin membedakan dengan sandiwara yang makin lama makin menjadi komoditi.

Tontonan dalam teater tradisi erat hubungannya dengan ritual agama. Memiliki nilai sakral. Bahwa teater memiliki potensi menghibur tak menjadikan teater hanya semata hiburan. Dalam tradisi, teatar memiliki fungsi penting di dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai terapi sosial. Sebagai pelaras harmoni. Sebagai juru bicara. Sebagai pendidikan moral. Dan sebagai ilmu. Teater bukan hanya tempat bermain, tetapi juga padepokan atau tempat bertapa.

Menyaksikan pertunjukan drama adalah menghibur diri sambil mencari makanan batin. Mengikuti tontonan tradisi adalah terlibat dalam upacara yang tak mungkin tanpa kesertaan batin yang aspek hiburannya seringkali tak ada, walau pun dapat diupayakan.

Teater tradisi, memberikan pengalaman batin baik kepada penonton dan pelakunya. Benda-benda yang dipakai, bukan hanya barang tetapi juga adalah pelaku yang memiliki jiwa dan kehendak. Diajak berdialog, diperlakukan dengan hormat, diberikan undangan sebelum dibawa ke panggung. Seniman-seniman Bali tradisional sembahyang sebelum melakukan pergelaran.

Pandangan rasional sering menuduh teater tradisi masih kena infeksi animisme atau dinamisme. Tetapi dengan tafsir yang lain: perlakuan sebagai mahluk hidup terhadap barang-barang mati dalam teater tradisi (baca: upacara) , tak bedanya dengan komando dari seorang pemimpin dalam sebuah barisan untuk mengajak pasukannya “siap” sebelum melangkah. Sebuah pernyataan dari tradisi bahwa teater adalah “upacara” (baca: kerja kolektip) yang memerlukan partisipasi total dan serentak dari seluruh pesertanya, termasuk benda-benda (property, kostum bahkan juga tempat) yang dipakai.

Maka dengan mengobel-obel kata sadiwara sebagai padan kata drama, muncul satu fakta yang tak menyenangkan. Ketika bangsa kita memproklamirkan kemerdekaan dan menyatakan tak lagi menjadi bangsa jajahan, ternyata ada yang tidak tertuntaskan. Pembebasan itu hanya sebatas kasat mata. Wilayah Indonesia memang sudah diproklamirkan tidak lagi menjadi koloni penjajah. Imdonesia bebas mengibarkan bendera sang saka sebagai tanda kemerdekaan. Tetapi itu hanya formalitas. Di dalam jiwa, Indonesia masih terikat oleh berbagai tambang-tambang kolonial yang menyebabkan kita tak pernah benar-benar terbang bebas sebagai bangsa yang merdeka.

Dari sebuah kata :”sandiwara” dapat dilacak, bahwa secara budaya kita masih menjadi perpanjangan paradigma kolonial. Penjajah nampak pergi, tetapi sesudah meletakkan fondasi penjajahan bentuk baru. Tanpa menyadarinya, kita sudah ikut membina penjajahan budaya itu dengan sebuah kata: sandiwara. Tanpa kita sadarai kita semua sudah memainkan peran penjahat

Kemerdekaan dengan demikian tak berarti pembebasan. Hanya perpisahan badan. Kebangkitan, baru berhasil mengangkat sebatas tubuh kita. Jiwa kita masih terbelengu sampai sekarang. Bahkan dalam posisi yang lebih rentan. Kita memang memiliki sandang pangan yang lebih baik. Anak-anak kita tidak lagi “nyeker” ke sekolah, mereka bahkan diantar jemput mobil dan sudah semuanya makan pakai garpu dan pisau di restoran tetapi tanpa celana dalam.

Pada hari pertama Festival Teater Jakarta ke-37, ketika semua “kecap” di atas saya lontarkan dalam sebuah diskusi, seorang anak muda bertanya. Ketika dunia sudah memasuki era global, konsep jarak menyempit dan orang menari Jawa di mana-amana di seluruh dunia, apa masih ada perlunya bicara tentrang tradisi? Bukankah semua orang sudah menjadi manusia dunia di alam global?

Saya langsung teringat ketika ada rembugan tentang Cetak Biru Pendidikan. Saat itu dilahirkan slogan pendikan nasional sebagai: “mendidik manusia Indonesia yang cerdas dan kompetitif”. Rumusan itu menjelaskan bahwa era globalisasi sudah mendikte target pendidikan Indonesia adalah untuk bersiap bersaing dengan mengadu kecerdasan. Dalam rumusan kecerdasan, kebijakan belum tentu terbawa. Padahal kebijakan/kearifan adalah senjata konta kita yang sebenarnya. Kita sudah terkecoh, terpancing untuk bertempur di areal kekuatan utama orang lain. Kita sudah disihir sehingga mengabaikan potensi kita.. Pasti kalah. Masih untung kalau masih hidup.

Kita perlahan-lahan dicukur plontos, sehingga kehilangan karakter. Tetapi tidak dibiarkan mati. Karena budak sangat diperlukan dalam pembangunan dunia maju. Lalu kita dicuci otak agar percaya bahwa era globalisasi membuat kita menjadi bangsa urban yang harus bangga menjadi penduduk dunia. Kita telah direkayasa untuk memulyakan pembunuh identitas sebagai sebuah gerakan moral menyongsong era baru dunia. Ini benar-benar sandiwara – sebuah tipu-daya yang kejam tapi sukses.

Dalam kesempatan yang lain, di sebuah seminar yang diselenggralan ISI Padangpanjang sebelumnya, saya juga dikritik habis oleh seorang dosen muda. Beliau dengan sengit dan marah mempertanyakan, mengapa hari gini masih mempersoalkan antara tradisi dan modern. Bagi dia persoalan itu sudah selesai dan lapuk. Saya tak menjawab, karena saya berharap dia akan mati pelan-pelan oleh pernyataannya sendiri. Sombong dan PD adalah sebuah kenyataan baru khususnya mewabah setelah era reformasi yang memberikan fatwa bahwa suara orang lain hanya bising knalpot).



Yang kedua, drama adalah pertunjukan yang didominasi oleh tutur dengan cerita/kabar yang menjadi unsur pokoknya. Dengan memproklamirkan sebagai seni tutur, unsur tari dan (seni) suara tertendang hanya sebagai unsur sampingan yang tidak penting. Cerita (wara) menjadi primadona, sehingga kebaruan cerita menjadi dimulyakan. Sementara di dalam teater tradisi, cerita hanya menjadi salah satu syarat berkumpul. Karena sudah sama-sama diketahui, cerita menjadi jembatan penghubung. Bagaimana cerita itu disampaikan (oleh dalang dalam wayang, misalnya), itulah yang menjadi bagian penting dari setiap pergelaran.


(Tutur atau cerita di dalam teater tradisi hanya jembatan penghubung. Mengajak semua pemirsa untuk berpegang kepada satu titik yang sudah mereka ketahui di luar kepala semuanya. Bukan unsur kebaruannya yang menjadi penting, tetapi justru pengulangannya. Ulangan itu memaksa hal-hal yang bersifat phisikal menjadi tindak penting, karena ketika sesuatu diulang dengan kecepatan yang kadangkala sama sekali dengan sebelumnya, terjadilah pengendapan, pendalaman yang mengeluarkan secara fantastis hal-hal yang sebelumnya tidak kasat mata.

Seorang nenek menuturkan kepada cucunya cerita yang sama berulang-ulang dan selalu menenggelamkan cucunya ke tidur yang dalam. Cerita tentang moral, yang memamerkan karma-pala disampaikan sebagai sesuatu yang sama, tetapi akibatnya berbeda-beda, karena semakin diresapi, setiap batin menggali dirinya sendiri, menemukan pertanyaan dan jawaban yang dibutuhkan oleh masing-masing, sehingga hasilnya bisa sangat berbeda padahal dari sesuatu yang sama.

Teater dalam tradisi adalah sebuah upacara. Sebuah pengulangan, seperti siklus, tetapi setiap pengulangan selalu punya sisi batin yang lain karena desa-kala-patra berbeda.

Tidak ada penonton dan tidak ada pelaku, semuanya adalah peserta yang dengan seluruh jiwa raganya menggulirkan prosesi itu sampai tuntas. Bukan dengan ukuran estetika tetapi kebutuhan jiwa. Moralitas yang disampaikan pun tidak hitam-putih, tetapi hitdam sekaligus putih. Di dalam teater Bali, pertempuran antara hitam dan putih dalam teater Calon Arang, tak selalu hanya dimenangkan oleh putih. Putih dan hitam nenang silih berganti, sesuai dengan desa-kala-patra.

Desa (tempat), kala (waktu), patra (situasi, suasana) adalah satu kesatuan yang mem bentuk setiap realita. Ini segitiga yang terus mengalir dalam satu gebrakan, sehingga nilai –nilai yang baku dalam satu masa, tak pernah bisa selamanya dijadikan pegangan. Nilai itu sendiri mengandung converter untuk melakukan harmonisasi bahkan setiap deti. Dia tumbuh, berkembang, berubah, berproses.

Tradisi lewat teater mengajarkan bahwa nilai itu bukan benda mati tapi hidup. Nilai tidak berhenti pada satu moralitas yang tak pernah terbunuh, tidak beku di satu tempat, waktu dan situasi, tetapi terus mengalir dan melaraskankan dirinya. Kita menyebutnya harmoni – sebuah paradigma yang menunjuk karakter Timur yang berbeda dengan alam pikiran Barat.

Dengan menundukkan diri pada pakem sandiwara, secara tak sengaja, kita sudah menyunat berbagai kearifan lokal yang tersimpan dalam tradisi. Lewat sandiwara referensi Barat telah menjadi senjata rahasia menaklukkan Timur. Maka kita memiliki kewajiban moral untuk menyeretnya kembali ke wilayah nol. Itulah yang saya sedang usahakan sekarang dengan berbagai jalan yang genit atau nyeleneh.)



Kedua tonggak yang ditancapkan sandiwara itu, meyebabkan sandiwara terpisah habitatnya dengan teater tradisi. Sandiwara hanya hidup di lingkungan terpelajar dan perkotaan.

Pembagian wilayah itu kemudian memberikan status sosial. Seni drama adalah tontonan kaum terpelajar/menengah ke atas. Di situ Barat tidak hanya sekedar referensi, menjadi kiblat. Estetika Barat menjadi hukum dan dogma yang bahkan kemudian menyebabkan sandiwara bermusuhan dengan kehidupan teater tradisi yang berkiblat pada kearifan lokal.

Sandiwara atau drama yang kemudian dikenal dengan sebutan teater modern, mempergunakan bahasa Indonesia. Pertunjukannya yang memulyakan realisme, penuh kesadaran terhadap kehadiran penonton yang terpisah dari tontonan. Sementara teater tradisi berada di sebaliknya.

Teater tradisi memakai bahasa daerah, erat hubungannya dengan upacara dan merupakan peristiwa bersama yang seringkali bernuansa spiritual. Dalam kegiatan teater tradisi tak ada batas antara seni tutur dengan seni tari dan seni suara. Teater tradisi adalah tontonan dengan segala unsur yang memungkinkan untuk berekspresi. Tak ada batas antara tontonan dan penonton.

Bertahun-tahun terjadi pemisahan dan permusuhan diam-diam antara teater modern dan teater tradisi. Tak kurang dari akademi-akademi teater sendiri, mengartikan mempelajari teater adalah mempelajari teater Barat. Teater tradisi dipenjarakan delam label “kesenian daerah”. Para pengadi teater sama sekali tidak peduli, bahwa di dalam teater tradisi begitu banyak ilmu. Kearifan yang bahkan membuat maestro pelopor teater modern di mancanegara seperti Antonin Artoud, Bertold Brecht dan Peter Brook belajar dan menyusun paradigma teaternya yang kemudian menentukan perjalanan teater Barat sendiri.

Perbedan kedua jenis teater itu (teater modern dan teater tradisi) mulai terhenti ketika Taman ismail Marzuki berdiri pada tahun 1968. Berbagai interaksi intensif yang terjadi di TIM selama 10 tahun, antara kedua jenis teater itu, melahirkan satu kesepakatan baru. Saya menamakannta “tradisi baru”. Tradisi baru adalah upaya untuk melepaskan Barat sebagai kiblat dan menganggapnya hanya salah satu referensi saja.

Puncak-puncak pencapaian pertunjukan teater pada era 70-an (Bengkel Teater, Teater Populer, Teater Kecil, STB, berbagai kelompok tetar dari beberapa kota antara lain: Medan, makasar, Surabaya, Yogya dll) menjadi referensi baru. Tradisi Baru menjadi tempat kehidupan teater modern Indonesia berkiblat pada akar Indoneisa dalam perkembangan selanjutnya.

Sejak adanya tradisi baru, teater modern Indonesia tidak lagi terpisah dengan teater tradisi. Keduanya membangun kerjasama dan melahirkan teater modern Indonesia yang Indonesia. Berbagai idiom teater tradisi yang berasal dari kearifan lokal memperkaya dan sekaligus membuat kehidupan teater modern di Indonesia menjadi berakar kepada tradisi.

Interaksi tak hanya terbatas pada bentuk, tetapi lebih dari itu, justru interaksi di dalam semangat, jiwa dan roh yang membuat perjalanan teater modern Indonesia berubah. Kini teater Indonesia bukan lagi hanya sekedar “sandiwara”, tetapi ekspresi manusia Indonesia dalam wujud tontonan.

Dan tontonan bukan lagi hanya sekedar pertunjukan yang menjadi penghibur bagi penonton yang terhormat karena sudah membeli karcis, tetapi peristiwa bersama. Sebuah upacara bersama untuk mendapatkan pengalaman batin yang dapat memperkaya baik yang menonton maupun yang menontonkan.

Bila Barat memulai dramaturginya dari masa Yunani Kuno, kita perlu mencatat, agar kemudian mengetahui betapa panjang proses yang sudah ditempah teater Barat, sebelum sampai pada Shakespearre, Molierre, Stanilavsy. Bolelavsky , Antonin Artoud. Brecht, Grotowsky, Ionesco, Beckett dan sebagainya.

Tetapi bila teater Indonesia kontemporer hendak disimak, tak cukup hanya berkaca pada dramaturgi Barat, karena wayang, ludruk, ketoprak, makyong, debus, jatilan dan sebagainya sudah ikut ambil bagian. Memahami pertunjukan-pertunjukan Indonesia dari hanya kaca-mata Barat, adalah sebuah kesalahan besar, yang seharusnya tidak dilakukan lagi.

Perjalanan teater modern Indonesia yang bahu membahu dengan teater tradisi sejak masa tradisi baru sempat melahirkan naskah-naskah baru. Idiom-idiom baru. Para pekerja teater yang baru. Kesemuanya itu memberikan harapan terhadap masa depan teater modern Indonesia yang akan sangat berperan di blantika internasional. Teater Indonesia, sebagaimana juga teater India, Jepang dan Cina, memiliki latar belakang yang kaya dan kuat untuk tampil sebagai salah satu pilar teater dunia.

Tetapi belakangan ini, karena miskinnya dokumentasi, seluruh proses kreatif “tradisi baru” itu mulai kematian angin. Sejalan dengan merosotnya kembali perkembangan teater modern Indonesia yang diakibatkan oleh bangkitnya industri dalam kehidupan kesenian Indonesia, temuan-temuan berharga mulai tercecer. Dan ketika gas teater mulai ditancap lagi, di dalam Festival Teater Jakarta, misalnya, nampak rada terlambat. Arus balik untuk kembali berkiblat kepada Barat sudah mulai santer kembali.

Itulah pentingnya untuk membongkar kembali, dokumen-dokumen dari gudang teater kita yang tidak terpelihara. Betapa berharganya sudah temuan-temuan yang kita hasilkan. Bagaimana menjaga agar tradisi baru itu terus menjadi kendaraan, untuk menyalakan tungku kearifan lokal dalam tradisi ke dalam ke kehidupan teater modern Indonesia. Tak hanya bentuk, tetapi terutama jiwanya.

Belum lama, saya dan Teater Mandiri menyelenggarakan roadshow ke 13 kota dalam rangka mempeingati 100 hari kepergian Rendta. Di Mojokerto kami menemukan sound system, lighting yang kurang memadai untuk bisa menampilkan pertunjukan di Gelanggang Olahraga yang besar itu. Beberapa kesalahan teknis terjadi. Untuk menutupinya, sambil main saya berkomunikasi langsung dengan para awak pentas, pura-pura marah dan memberikan arahan. Penonton yang semula sangat pasif kemudian jadi encer dan tertawa, ketika batas tontonan ditembus seperti itu. Sejak saat itu pertunjukan menjadi komunikatif dan meriah.

Tapi apa kata seorang wartawan yang menulis di Radar Mojokerto. Dia mengeritik saya dengan mengatakan bahwa aksi saya terganggu karena saya jadi sempat marah-marah pada awak pentas yang sebenarnya adalah anak buah yang sudah saya latih sendiri. Dalam contoh itu jelas, penulis resensi tidak paham, bahwa kemarahan itu disengaja untuk mengatasi keadaan, sehingga jurang antara penonton dan tontonan tertutupi, sebagaimana yang sangat biasa dilakukan dalam pertunjukan tradisi.

Apa yang terjadi pada teater (baca: kesenian) tidak hanya urusan orang teater tok. Saya lihat penjajahan baru ini juga melanda kehidupan politik, sosial dan ekonomi bahkan seluruh cakupan kehidupan budaya kita sekarang.

Paradigma tentang demokrasi, keadilan, kepatutan, hukum, bahkan moral dan sebagainya, kini kembali “dikadali” oleh alam pikiran “kolonial”, dengan mengatasnamakan era global. Maka para pemimpin kita pun bertengkar sementara rakyat tersaruk-saruk mengatasi jalannya sendiri di berbagai wilayah. Gerakan moral membangkitkan kembali kearifan lokal, agar lepas dari cengekeraman “kolonialisme budaya”, adalah peluang yang dahsyat.

Mengingatkan betapa hebatnya kekayaan dalam teater tradisi; betapa saktinya kearifan lokal di dalam jiwa tradisi dan karenanya betapa salahnya kalau memusuhi tradisi; betapa salahnya kalau keliru di dalam menangkap esensi (baca: kearifan/kebijakan lokal) tradiisi memang sesuatu yang sudah klise. Tetapi terpaksa harus kita genjot lagi sekarang, karena adanya arus balik untuk kembali mencampakkan “tradisi” (baca: kearifan lokal) dan terbius oleh hasrat berkiblat ke Barat.

Tak kurang dari mereka yang berkepentingan menarik keuntungan dari kematian kita, sudah mengkampanyekan secara sistimastis, secara besar-besaran bahwa tradisi atau identitas (sekali lagi baca: kearifan lokal) itu adalah tanda jiwa yang sudah mati dibekuk oleh alam mimpi, romamantika zaman baheula yang sudah tinggal mumminya.

Kolonialisme budaya memang isyu yang sudah klise, tetapi harus kita lawan sebelum benar-benar menelan kita habis. Yang paling terancam adalah masyarakat perkotaan dan para urban yang sudah berjarak dengan akar budayanya. Tetapi kebangkitan kembali justru akan berkobar di dalam kota, karena manusia-manusia kotalah yang paling pertama merasa dirinya sunyi, gamang karena kehilangan identitas.


Selamat berjuang.


Jakarta 21 Desember 09

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar